my future dream

  • Image
  • Dear my love, Adi…

Sayang, hari ini tanggal 17 Januari 2012. Lebih tepatnya jam 02.51 dini hari, dengan kamu yang sedang tidur di sebelah aku. Sumpah aku bersyukur. Kamu masih ada di sisi aku sampai saat ini.

Aku ga bisa tidur. Aku udah beberapa hari ini kepikiran sama kata-kata kamu. Kalau inget itu, hatiku kaya ketusuk. Kayanya jantung aku kebakar sampe ninggalin panas di dada sebelah kanan aku. Nyeri dan panas.

Kamu inget ga kata-kata kamu yang ini :

“Aku ga bisa milih antara ibuku atau kamu. aku sayang sama kamu, tapi aku juga sayang sama ibuku,”

“Aku pengen sendiri aja, tapi aku ga mau kamu jauh dari aku,”

“Aku bingung, aku ga siap komitmen seperti yang kamu minta,”

“Sampai aku lulus entar, aku ga mau mikirin soal komitmen. aku ga siap,”

“Aku juga suka di jodoh-jodohin sama bos aku, tapi aku bilang udah punya pacar,”

“Kamu kenapa ga cari yang lebih mapan aja, yang lebih baik di banding aku. aku ga bisa ngasih kepastian sama kamu. kamu jangan terlalu ngeharapin aku,”

inget ga di?

maaf kalau aku begini. tapi jujur kata-kata itu bikin hatiku gamang banget. aku bingung harus gimana? 

aku bingung kenapa aku di posisi seperti ini? karma kah?

orang yang paling aku sayang selama ini menganggap perasaanku kaya sendal. kenapa sendal? 

dimata aku kamu itu tipe orang yang ga suka pake sendal. kamu pakai sendal pada saat kamu ga berjalan jauh, alias cuma pergi yang deket-deket aja. kalau kamu mau jalan jauh, kamu akan ganti dengan sepatu.

itu persis hubungan kita. kamu dengan aku cuma saat ini doang. buat kamu, aku bukanlah seseorang yang akan kamu bawa jauh ke masa depan kamu. mungkin karena aku terlalu biasa seperti sendal. 

aku cuma sepasang sendal yang berharap tuannya akan memperlakukannya dengan baik sehingga  ga cepet rusak dan  bisa dipakai dalam waktu yang lama. Sepasang sendal ga masalah dengan pakaian tuannya yang santai, atau mungkin lusuh pada saat dia dipakai. Bahkan kadang-kadang dia rela diceburin ke air, lumpur bahkan kotoran sekalipun, asalkan tuannya selalu bersih.

sepasang sendal jarang disimpan dengan baik, mereka kena hujan, panas, dicakar kucing buat asah kuku mereka supaya tajam. sepasang sendal jarang di bawa ketempat mewah n mahal. karena biasanya majikannya malu makai sendal. mereka hanya dibawa ke pasar, mesjid atau mungkin cuma di kamar mandi.

aku rela di, aku rela kamu kasih aku hidup yang kaya gini pada saat sekarang.  mungkin pada saat kamu lulus nanti, orang tua kamu akan terus jodohin kamu. aku yakin, kamu akan milih mereka dan ninggalin aku. yang aku bisa, aq nikmatin semua waktuku sama kamu tanpa berusaha minta pamrih. 

cuma ini doaku, aku pengen jodoh sama kamu. tapi kalaupun itu ga mungkin dan kamu bukan takdirku, semoga ada orang lain yang bisa gantiin kamu di hati aku dan bikin aku ga nyesal menjadi sandal dan mau nerima aku apa adanya dengan rasa sayang, setia dan slalu bikin aku happy. sehingga pada saat aku ngelihat kamu bahagia sama pasangan hidup kamu, ga ada rasa sesal dihatiku.

Adi,

aku sempat mikir, walaupun jangan sampe terjadi. pada saat ini kalau tiba-tiba sampai aku hamil (tapi jangan sampai), mungkin aku ga akan minta pertanggung jawaban dari kamu. karena aku tau kamu ga   belum siap buat berkomitmen. kalaupun dipaksakan kamu ga akan bahagia. 

aq akan pergi jauh dari kamu dan berusaha nutupin semua dari kamu. biarlah aku yang hadapin sendiri. aku ga pengen ngasih beban sama kamu. aku ga pengen kamu ga bahagia karena aku. kalaupun kita memang jodoh, aku berdoa semoga tuhan ngasih kita akhir yang bikin kita sama-sama bahagia. 

adi, kamu tau khan? aku sayang kamu dan akan terus sayang sama kamu sampe kapanpun. walaupun aku sedih karena kamu ga ngerasaain hal itu ke aku. asalkan kamu happy aku gpp.

i love you, sayang,

Leave a comment »

Nechh baca…!! (Note: Utk Ce^ jgn memandang rendah laki2 dari segi materi)

~ Cinta Laki-laki Biasa ~
MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau

menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang
dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,
melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan
teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari

sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang
mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu

neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali
beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu.
Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba
bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan

spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus
adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama
terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk
melamarnya. Arisan keluarga
Nania dianggap momen yang tepat karena semua
berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah
berkeluarga membawa serta buntut mereka.
“Kamu pasti bercanda!”
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul

senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama
membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita

melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang

melamarnya.
“Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani

melamar anak Papa yang paling cantik!”
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik.

Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata
kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan
pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara,

masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh
datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”
Nania terkesima.
“Kenapa?”
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai

lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi
seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang

lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang
kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak,

dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata
‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
“Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak

menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
“Tapi kenapa?”
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,

berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi

parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal
hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya
hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali

karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya
fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma
punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup
hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania
bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di

belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih
belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata
mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania

bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia
meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”
“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”
“Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya

sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka

beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak

perlu lelaki untuk menghidupimu.”
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah

menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal

Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan.
Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki
anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup
senang.
“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu

memforsir diri.
“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir

sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu

seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan

pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang,

uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan
Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan

mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik
saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania

belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia
yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.

Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu,
tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari

waktunya.
“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera

dikeluarkan!”
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam

rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu
merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan
jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya

waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua
Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama,

Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah
dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat
sekali.
“Baru pembukaan satu.”
“Belum ada perubahan, Bu.”
“Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan

harapan.
“Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa

memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,

didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran
akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
“Masih pembukaan dua, Pak!”
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah

tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi
tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
“Bang?”
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
“Dokter?”
“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”
Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana

jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena

Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak
suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh

di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu.
Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak.
Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat
menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang
bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu

tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
“Pendarahan hebat.”
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara

Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa

saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa
dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya

ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak.
Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan,
fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah
oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah

sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit,

kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat
Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap
kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil,

dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan
pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki
dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
“Nania, bangun, Cinta?”
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan

kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk

pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat
Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan
buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.
Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
“Nania, bangun, Cinta?”
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania

sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata
kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi
orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di

luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur,
atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak

bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang
cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat

Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan

mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang
meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki

biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per
satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan
menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti
remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan

wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania
selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana
bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu

meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama

itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton
bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli,
melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di

sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan,

juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi
pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
“Baik banget suaminya!”
“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”
“Nania beruntung!”
“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”
“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya

memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi,

merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar

mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu.
Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.

Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang

beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang
bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak
lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang

tak pernah berubah, untuk Nania.

Leave a comment »

just tell me the truth….

Sayang,

beberapa bulan ke belakang ini aku ngerasa sikap kamu kurang enak ama aku…aku bingung apakah kamu lagi ada masalah atau kamu udah ngerasa ga nyaman lagi berhubungan sama aku….

just please tellin me….aku harus gimana….?

susah banget bikin kamu happy bisa sama aku…

Comments (1) »

tanggal jadian saturday night..160110

tepat na pada tanggal 16.01.10 kemaren begitu senang nya punya hati ini bisa bermalam mingguan bersama kekasih tercinta que..
pada tanggal itu qt merayakan tanggal jadian….dan sekaligus keponakan tercinta sang kekasih yang baru lahir…
ooo senag rasa ini bisa keliling ibukota bersamamu..di tengah kerlap-kerlip lampu..yang menghiasi ibukota…
untuk mendeskripsi kan perjalanan dari awal ampe akhir pada tanggal 16.01.10..
aq berangkat dari rumah kira” jam 11an..karena ada keprluan maka aq menemui sang mother terlebih dahulu..tiba di tempat sang mother perkiraan pukul 13:00 wib…
kemudian setelah dari tempat sang mother secepat mungkin menuju sang kekasih walau di tengah jalan turun hujan yang begitu sangat deras..tapi tak dihiraukan..karena rasa rindu ini sangat menusuk qalbu..walau dengan keadaan yang dekil+kotor akhir nya sampe juga di tempat sang kekasih..(sempet cuci muka dan bersih)..
karena sang kasih belum makan…berlanjut makan ke rumah makan be”k yogi..sambil cuci steam mykendaraan…dan meneruskan perjalanan bersama kasih menuju tasya baby(sebuah toko pernak-pernik kado baby)..dan di st kami sempet saling mengeluarkan opini masing” gift yang terbae bwt keponakan tercinta ny kasih…
dan kami setelah menimbang,memutuskan bahwa kado seperangkat perlengkapan bobo na baby..hehehehe kek mw nikahan z seperangkat alat shalat_akad nikah
setelah itu otw menuju rumah sakit…dan bertemu keluarga sang kekasih..dan kami pun bermain bersama cikei(ponakan paling besar na sang kekasih)…
setelah lama kami pun berinisiatif bwt makan malm bersama sang kekasih,,,dn setelah itu aq mengantar ke rs karena sang kasih mau nginap menemani sang ponakan tercinta…
dan setelah itu aq kembali pulang…
thanks sang kasih kamu telah mengisi hari_hari ku begitu indah..
semoga kamu selalu dan tetap bersamaku selama-lamanya sepanjang hidup sampai akhir hayat aq..

Comments (1) »

rasanya….

Lady di tanya ama temen Lady….

“Yang lo kangenin dari adi ada ngga? yang bisa bikin lo merinding ngilu plus kangen kalo inget dia atau liat fotonya?”

pas di tanya gitu…Lady langsung merinding…hii…kata-2nya pas banget ngena di hati…

jawabannya “Ada!!”

Lady selalu merasakan hal itu kalo inget kamu….apalagi kalo udah lama ga ketemu….ga sengaja ngeliat foto kita berdua Lady selalu teringat akan beberapa hal….

1. Wangi kamu, ga tau kenapa…ini wangi familiar banget di hidung Lady….tapi kalo Lady inget-inget…Lady baru nemuin wangi itu di kamu….

2. Ketawa kamu, Ketawa riang sampe suara-suaranya itu langsung kebayang di benak Lady…dan suaranya kaya ada di deket kuping Lady….

3. Pembawaan kamu yang tenang, kalo Lady lagi panik, Lady slalu inget pembawaan kamu yang tenang, kapan Lady bisa kaya gitu?

4. Muka kamu yang jail kalo lagi ledekin Lady

5. Suara kamu yang beda banget kalo di telepon sama aslinya….

5 hal itu selalu kepikiran di benak Lady….dan selalu bikin kangen….i miss u right now…dan 5 hal itu bikin Lady sakaw….hehehe…

i miss u a lot…cuma itu yang ga bosen Lady ungkapin….i miss u…bcoz i’m so in love with u…

 

Comments (2) »

Relaxing Weekend…

Howdy…my love,

Aku pengen cerita soal kemaren….hihi….still remember all the things we did….nih, aku ceritain versi aku dari pertama bangun, ampe udah sampe kosan.

Aku bangun jam 5 pas, perutku mules banget. Sebenarnya waktu kemaren itu perutku lagi ga enak. Tapi udah lama kita ga ketemu jadi aku ga pengen merusak hari-hari yang udah aku tunggu-tunggu itu, for met u, setelah lama banget aku ngerasain kamu sibuk dan susah ketemu. so, aku menguatkan diri sajalah. dan ready to prepare.

Aku bingung banget mau pake baju apa yang ga bikin gerah n keringetan. aku ampe gonta-ganti baju berapa kali. duh persis kaya mau ketemu raja Inggris. udah selesai pake baju, aku baru inget kamu ga suka aku pake celana pendek selutut ituh. ya udah aku ganti celana panjang….duhh rempong deh booow…..

Oke, aku akhirnya berangkat juga jam setengah 7 kurang. Aku ngantuk banget, sampe salah naik bus. ahaha…dari jauh itu aku liat P9 B….which is bekasi barat yang berhentinya depan MM ituh….yawdah aku naik, dan abangnya juga bilang “Ayo bekasi, bekasi, bekasi ampe MM!!!”, dengan pedenya aku masuk dan duduk di baris ke 4 dari depan, sendirian.

Akhirnya pas berangkat, aku ga liat si kenek itu lagi, tapi keneknya beda ama yang tadi!!! oh, no!!!!. dengan berfikir positif, aku mikir, “Mungkin yang tadi kaya calo di angkot aja,”

Anyway si abang nagihin ongkos, aku kasih 5000, tapi dia masih nungguin, aku langsung mikir “Buset ni ongkos naik lagi?” aku kasih 5000 lagi di kembaliin 4000.  Aku langsung otomatis noleh ke jendela di mana jurusannya tertulis pake stiker. P9 Bt…tol timur!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

TIDAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!! aku kesasar…aku belom pernah ke bekasi timur….aku panik setengah mati. aku pengen telepon kamu, tapi aku ga mau nyusahin dan asumsi kalo ada orang dengerin aku nyasar aku pasti di manfaatin abis-2an….

Akhirnya, aku ambil keputusan cepat, di tempat pemberhentian pertama aku turun n naik taksi…akhirnya setelah perjalanan yang agak jauh aku ngeliat orang pada berdiri aku ikut aja…dan turun di tempat antah berantah pasang muka seakan-2 “Gw dah lewatin daerah ini ribuan kali”….sambil nyengir kuda n tangan gemetaran takut ketawan aku nyasar. Aku jalan!! ga tau kenapa, kakiku tiba-tiba jalan, tapi sambil cari taksi. jam 7 pagi, hari minggu pula. susah banget taksi…lagian jalannya kecil begini kemungkinan aku dapet taksi sekita 0,000001%.

Tiba-tiba ada mbak-mbak nyamperin aku. Dia mukanya nyengir ramah yang bikin aku langsung waspada. siapa tau dia tau aku nyasar dan memutuskan untuk manfaatin aku.

Mbak-mbak asing(MMA):”Mbak, saya mau tanya, Kearah MM lewat mana, trus naik apa yah?”

Hueeehhh. Kawan senasib.

Lady:”Kenapa mbak?salah naik bus yah?”

MMA:”Iya nih Mbak, tadi dari kampung rambutan saya baru sadar di tol,”

Lady:”Saya juga nyasar mau ke MM malah ampe sini”

MMA:”Oh…gitu yah…..”

Lady sedikit menangkap kekecewaan di muka MMA, hahaha…..peduli amat gw punya temen senasib.

Akhirnya setelah diskusi ada taxi lewat dan kita naik taxi dengan patungan. dan ternyata MM tuh ga jauh dari sana….welehweleh….sebenrnya gw nyasar apa kaga sih?. Ongkos taxi 15 rb, tapi sebagai rasa sukur kita berdua patungan 10.000/orang dan sisanya di kasih bapak taxi yang bingung ‘orangkaya banget ke MM naek taxi’.    

For the first time, abis ngalamin panik yang aneh itu, liat muka kamu hatiku kaya di tetesin es. Legaaaa, i feels like home.                    

Comments (2) »

I swear to love you unconditionally…

Dear Love…

Aku pengen ngulang memori waktu pertama kali kita ketemu setelah sekian lama lulus SMA…ini deskripsi dari sudut pandang aku…dan sumpah aku masih kebayang-bayang saat itu. Rasa kaya kemaren, padahal udah beberapa bulan yang lalu.

Waktu kamu bilang pengen ketemuan ma aku. Aku deg-degan banget, aku ga pede banget. Things changed, aku berusaha banget untuk engga dandan. hehe. supaya kamu ilfil n liat aku apa adanya. aku waktu itu punya feeling kamu mungkin hanya mau temenan aja ama aku.

Mungkin terlalu ecxited pengen ketemu. Aku sampe duluan di tempat janjian. deg-degan banget. aku tenangin diri, dari awal aku dah taro kesan ke kamu kalo aku ga kenal-2 amat ma kamu. padahal salah, aku sengaja purapura lupa biar ga ketawan kalo sebenrnya udah lama aku suka ma kamu.

aku duduk gelisah banget. malah mikir yang jelek deh, waktu itu aku mikir kamu sebenernya udah dateng, tapi karena liat aku, hehe jadi kabur duluan. aku putusin telepon putri. waktu itu yang dukung aku ketemu kamu adalah putri. aku bilang aja ma dia kalau aku takut patah hati nih. soalnya hatiku masih rapuh banget….hehe gaya yah….tapi i swear kalo waktu itu kamu ga tertarik ma aku. aku bener-2 ga pengen cari pacar lagi.

anyway, tanpa sadar kamu dateng. my god…u look handsome….kamu tenang banget pembawaannya….aku jadi makin sayang. dan yang paling bikin aku senang. kamu mau jadi pacarku.ooohhh…sweeet memories….

makasih ya adi….for coming into my life….i swear to love u unconditionally…hehe maaf yah aku nyusahin, kaya anak kecil. yang jelas aku besyukur banget deh bisa deket ma kamu…..

with a lot of love…

ladybug….


Comments (1) »

10 countdown things i love about you….!!!

hangout together....

10. Dengan bebasnya Lady bisa menjadi diri sendiri, banyak hal yang Adi tolerir dari kebiasaan Lady yang mungkin kurang bisa di terima oleh orang lain….dan hal itu sangat bisa di rasakan Lady.

9. Adi itu orang yang sangat sportif dan bisa berbesar hati menerima kemarahan Lady, yang justru keadaan Adi yang sabar itu selalu bisa menekan bahkan menghilangkan amarah Lady yang seperti bom waktu,bisa meledak kapan saja bahkan untuk hal yang kecil sekalipun.

8.Banyak hal yang bisa Lady hargai dari setiap detik pertemuan Lady dengan Adi, mungkin karena adi orangnya terencana dan bisa di andalkan, membuat Lady merasa aman n nyaman dekat Adi…padahal Lady sendiri orangnya spontan dan kadang berantakan…sehingga sedikit dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan yang selalu Lady buat.

7. Humor Adi sangat tinggi, walau kadang Lady merasa dia tidak mengerti jalan pikiran Lady, tapi Adi selalu bisa melihat sisi humor dari yang Lady lakukan, yang anehnya Lady tidak merasa di permalukan…

6. Salah satu sifat Adi yang paling Lady hargai adalah Adi orang yang baik dan penyayang, banyak hal yang Lady alami merupakan bentuk rasa sayangnya terhadap Lady, walau kadang Lady selalu membangkang, tapi lady tau itu sisi baik Adi, rasa sayangnya bisa membuat Lady terus menikmati kebaikan.

5.Adi orang yang sangat peduli ama Lady, dari seluruh orang di hidup Lady, baru kali ini lah Lady merasakan seseorang yang sangat peduli dan benar-benar peduli dengan keadaan Lady, dan Adi selalu berusaha mengungkapkan rasa peduli itu bahkan sampai hal yang terkecil sekalipun.

4. Adi adalah pendengar yang baik. setiap cerita Lady selalu di dengar, walau kadang suka lupa, dan Lady maklum dengan hal itu karena mungkin banyaknya cerita Lady lebih dari banyaknya cerita Adi yang di ceritakan.

3. Adi orang yang sangat tulus dalam melakukan segala hal. terlihat dari kasih sayangnya terhadap Lady dan temen-2nya….Lady sangat bersyukur mempunyai seseorang yang begitu tulus dalam kasih sayang.

2. Kesetiaan adalah pattern yang paling penting bagi Lady, dan mudah-2an kesetian Adi yang Lady rasakan dapat terus terjaga hingga masa depan kelak..

1. Adi itu merupakan orang yang ada di hati Lady selama kurang lebih 6 tahun, dan sekarang dapat lady miliki….semua detil di hidupnya, di dirinya, sifatnya, kelebihannya, kekurangannya….selalu membuat Lady jatuh cinta dan berdebar-debar….dan baru Lady rasakan….pertama kalinya…kalo hidup Lady itu indah, dan Lady selalu mengucap syukur karenanya…..

 

Adi, aku sayang kamu. Happy 3 bulanan….makasih buat cinta n kasih sayangnya selama 3 bulan….Lady bersyukur banget bisa memiliki 3 bulan yang indah dan semoga ini berlajut selamanya…i love you Adi….

 

-Ladybugintherain-

Comments (1) »

ehm…

don’t love someone like a flower
because flower dies in season,but
love someone like a river
because river flows forever..

may u always be well
i want to see your happy face

faith lifts shining arms
and points to a happier world
where our loved ones a wait us

may u ever find life drighter
as each year comes
and goes with now happiness
unpolding like the pet als of a rose

good friend
i’d steal the sun from the sky for u
words can’t say what a love can do

a best friend is some who loves u
when u forget to love yourself

there once as a child living everyday
expecting tomorrow to be different from today

Leave a comment »

CINTA

HEARTApa arti cinta yang sesungguhnya
Cinta kadang membuat hati berbunga-bunga
tapi juga kadang menyakitkan hati
Cinta dapat menjadi bunga yang indah
Disaat musim semi
Tapi juga dapat menjadi duri
Bagi orang yang memetik bunga cinta itu
Semua hal tentang cinta hanyalah ilusi semata
Bagai angin yang berhembus di pagi hari
Dapat datang dan pergi
Tanpa sepatah kata
Tanpa kesan
Jadi jangan lah memetik bunga cinta itu
Apabila takut akan tertusuk durinya
Dan jangan lah mencari arti kata cinta
karena itu membuatmu merasakan bagaimana tertusuk duri cinta.

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.